Dudung...Dudung...Dudung
Pemuda metropolitan
Berjalan sambil mencekik botol miras
Si Dudung
Berkeliling kota dengan motor knalpot rombeng
Si Dudung
Bersiul, merajuk gadis-gadis remaja
Si Dudung
Tertidur lelap saat umat manusia membuka matanya
Si Dudung
Tersungkur
Si Dudung
Masuk got
Si Dudung
Tewas dengan miras di genggamannya
Puisi Fatahaya
Rabu, 15 April 2015
Puisi Fatahaya: Jasad
Ada ruh, bersemayam di atap kamar
Perlahan turun, menyaksikan jasad kaku
Ruh, melayang-layang ingin masuk pada jasad
Di sebelahnya ada Syetan berbisik
Meninabobokan jasad
Di sebelahnya ada hand pone yang berdering
Tanda alarm dini hari
Jasad tak bergerak, Syetan menyiapkan tali
mengikatkan di leher jasad
Tiga lilitan ia ikat
Ruh, perlhana masuk lewat aliran darah
mengisi penuh jasad
Jantung memompa dengan cepat
Jasad terperanjat
Lilitan pertama terlepas
Jasad basah
Lilitan kedua lepas
Jasad menghadap kiblat
Lilitan ketiga lepas.
Syetan kalah!
Perlahan turun, menyaksikan jasad kaku
Ruh, melayang-layang ingin masuk pada jasad
Di sebelahnya ada Syetan berbisik
Meninabobokan jasad
Di sebelahnya ada hand pone yang berdering
Tanda alarm dini hari
Jasad tak bergerak, Syetan menyiapkan tali
mengikatkan di leher jasad
Tiga lilitan ia ikat
Ruh, perlhana masuk lewat aliran darah
mengisi penuh jasad
Jantung memompa dengan cepat
Jasad terperanjat
Lilitan pertama terlepas
Jasad basah
Lilitan kedua lepas
Jasad menghadap kiblat
Lilitan ketiga lepas.
Syetan kalah!
Jasad
Ada ruh, bersemayam di atap kamar
Perlahan turun, menyaksikan jasad kaku
Ruh, melayang-layang ingin masuk pada jasad
Di sebelahnya ada Syetan berbisik
Meninabobokan jasad
Di sebelahnya ada hand pone yang berdering
Tanda alarm dini hari
Jasad tak bergerak, Syetan menyiapkan tali
mengikatkan di leher jasad
Tiga lilitan ia ikat
Ruh, perlhana masuk lewat aliran darah
mengisi penuh jasad
Jantung memompa dengan cepat
Jasad terperanjat
Lilitan pertama terlepas
Jasad basah
Lilitan kedua lepas
Jasad menghadap kiblat
Lilitan ketiga lepas.
Syetan kalah!
Perlahan turun, menyaksikan jasad kaku
Ruh, melayang-layang ingin masuk pada jasad
Di sebelahnya ada Syetan berbisik
Meninabobokan jasad
Di sebelahnya ada hand pone yang berdering
Tanda alarm dini hari
Jasad tak bergerak, Syetan menyiapkan tali
mengikatkan di leher jasad
Tiga lilitan ia ikat
Ruh, perlhana masuk lewat aliran darah
mengisi penuh jasad
Jantung memompa dengan cepat
Jasad terperanjat
Lilitan pertama terlepas
Jasad basah
Lilitan kedua lepas
Jasad menghadap kiblat
Lilitan ketiga lepas.
Syetan kalah!
Sabtu, 07 Maret 2015
Rindu Purnama
Rindu Purnama
Untuk malam yang teramat terang hingga siang menjadi pekat
Bolehkah aku mengintip dibalik tirai, Wajah purnama yang merona
Kau fatamorgana, penghias semu
Di hadpanku ada cawan rindu yang membeku
Membiarkannya berkarat
Dia menanti, Dia menunggu
Aku berjalan lambat, mengulur waktu
Dia tak sabar ingin dekat
Untuk malam yang teramat terang hingga siang menjadi pekat
Bolehkah aku mengintip dibalik tirai, Wajah purnama yang merona
Kau fatamorgana, penghias semu
Di hadpanku ada cawan rindu yang membeku
Membiarkannya berkarat
Dia menanti, Dia menunggu
Aku berjalan lambat, mengulur waktu
Dia tak sabar ingin dekat
Mengulum senyum patrawali
Mulut terkunci
Hati bergejolak
Mulut terkunci
Hati bergejolak
Langganan:
Komentar (Atom)